“Mengapa Saya Menulis” #PaluMenulis #2
Jumat, 24 Oktober 2014 - Diposting oleh Unknown di 12.46
Mahasiswi Bahasa Inggris, Universitas Tadulako
“Dengan menulis, kita dapat menyebarkan ilmu yang kita miliki. Ilmu lebih utama dibanding dengan harta, karena ilmu itu menjaga kamu, sementara kamu menjaga harta”. – Ali Bin Abi Thalib
MENGAPA saya menulis? Ya, karena saya sudah terbiasa menulis dari kecil, dan menulis seperti menjadi saya dalam bentuk yang lain. Karena dalam tulisan, saya bebas mengekspresikan semua rasa yang saya rasakan, juga karena dunia terlalu ribut. Kadang otak saya terlalu bercabang-cabang, mikir ini, mikir itu dan saya sendiri bingung kenapa begitu. Selalu muncul ide-ide gila di saat yang tak terduga, jadi ya saya tulis dari pada saya lupa nantinya.
Saya terbiasa menulis dari kecil, ya menulis diary
Karena ibu saya. Jadi waktu itu ceritanya setiap pulang sekolah, ibu saya selalu bertanya, “tadi di sekolah belajar apa?, tadi jajan apa?, tadi main apa?, Dan masih banyak serentetan pertanyaan serupa. Karena hampir setiap hari selalu ditanyai seperti itu, saya jadi terbiasa, tanpa ibu bertanya pun saya selalu menceritakan tentang hari saya di sekolah.
Menginjak kelas 3 SD, kerena sesuatu dan lain hal, saya pindah sekolah ke Banyuwangi. Sekolah baru, teman baru, lingkungan baru dan semaunya serba baru. Tinggal bersama mbah Uti, mbah kakung dan seorang sepupu perempuan. Aneh, sepi. Parahnya lagi ibu hanya sebulan berada di sana. Tak ada lagi orang yang bertanya tentangku. Tak ada lagi orang yang bertanya tentang hariku setiap hari. Zaman dulu, keluargaku belum punya ponsel adanya cuma telepon rumah. Telepon dari ibu dan ayah biasanya hanya seminggu sekali atau paling dua kali sehari.
Di hari ulang tahunku yang ke-8, sepupu perempuanku memberikan hadiah sebuah buku kecil yang cantik. Awalnya saya tidak tahu, harus saya apakan buku itu. Pertama cuma dituliskan jadwal pelajaran di sekolah, terus menulis tentang biodata diri a la anak SD. Makin lama, kenapa tak menulis tentang hari-hari di sekolah saja biar kalau ibu datang, ibu bisa baca ceritaku.
Menulis menjadi saya dalam bentuk lain
Pernah nonton YU-GI? Oh, nggak pernah? Aduh kasihan deh. Ada yang pernah. Jadi seperti itulah kira-kira. Kadang saya seperti Yugi. Anak biasa, tapi ketika berada dalam arena pertandingan (baca: saat saya menulis) saya seperti jadi orang lain. Dalam tulisan, saya bisa bicara tentang apapun yang tidak bisa saya ungkapkan secara lisan. Menulis tentang ini-itu secara panjang lebar dan setelah selesai, dan saat saya membaca tulisan saya “owww ini tulisan saya?, ini toh yang ada di otak saya?”
Dunia yang semakin ribut
Semua orang ingin didengarkan tanpa ingin sekali pun mendengarkan. Kenapa tak tuliskan saja ceritamu? Mungkin tak banyak yang akan repot-repot membacanya tapi menulis membuat hal yang tak nyata dipikiran kita menjadi nyata, dan dengan sendirinya kita tahu apa sebenarnya yang menjadi masalah kita dan mencari solusinya. Tak merepotkan orang lain, bukan? Bercerita ke si a, si b, dan mereka akan menceritakannya lagi ke orang lain, malah menambah masalah mendengarkan orang-orang yang tak seharusnya berkomentar malah berkomentar. Bagus kalau komentar itu positif, kalau negatif?
Awalnya saya marah, orang-orang di sekitar saya, selalu menceritakan semuanya dan mereka seolah menuntut saya untuk mendengarkan mereka. Mungkin ini salah satu manfaat dari menulis, jadi lebih tenang dan ketenangan itu mungkin yang membuat mereka nyaman, tapi entahlah, yang jelas saya juga manusia biasa yang punya segudang problem hidup.
Saya mulai menerima hal itu dan hal itu kadang malah menginspirasi saya untuk menulis puisi, cerita pendek, ya berdasarkan kisah nyata mereka dengan sedikit modifikasi tentu saja. Dari mereka saya belajar tentang hidup tanpa harus saya alami sebelumnya.
“Saya ini menulis apa ya?”
Ya, tapi itulah hal-hal yang muncul di otak saya saat ada yang bertanya mengapa Anda menulis? Dan untuk siapapun yang membaca tulisan ini, boleh kan, saya mengajukan pertanyaan serupa, mengapa Anda menulis? ***
