“Mengapa Saya Menulis” #PaluMenulis #7
Jumat, 24 Oktober 2014 - Diposting oleh Unknown di 22.00
Sedang mempersiapkan debut novel
MUNGKIN kalau saya diberi pertanyaan seperti pertanyaan di atas, maka beberapa jawaban secara gamblang yang akan saya berikan adalah sebagai berikut.
Karena aksara tertulis melambungkan rasa dan imajinasi lebih hebat dari pada gambar dan film sekalipun. Karena menulis adalah sarana untuk mengekspresikan perasaan yang kadang tertahan untuk diungkapkan. Karena banyak hal, baru bisa dimengerti kalau ditulis terlebih dahulu, dan karena ada yang mau ditulis.
Menulis bagi saya adalah sebuah kesenangan. Kesenangan yang muncul dari dalam hati, jiwa. Sejak 2005, waktu masih SMP, diary yang usang dekil itu sudah terbiasa jadi tempatku berbagi dan bercerita. Entah itu perasaan marah, sedih, senang ataupun datar. Album besar yang tua itupun juga pernah membuat tinta penaku habis olehnya. Right! Semua perasaan yang ada di jiwa itu memang hanya bisa ditumpahkan dalam bentuk tulisan, paling pas kalo dibicarakan pada tulisan, dan cuma tulisanlah yang mampu memahami semua itu.
Tulisan dan curahan hati
Memang, sebuah tulisan tak melulu soal sebuah perasaan. Seorang jurnalis contohnya, mereka kebanyakan menulis tentang pemberitaan yang terjadi dalam masyarakat. Seorang penulis buku sekolah pun seperti itu, mereka membuat tulisan karena ilmu yang ada pada diri mereka yang mesti harus mereka salurkan. But above all, menulis tak harus tentang uang. Dewasa ini, bisa sangat dengan mudahnya ditemui di internet, tulisan-tulisan dalam bentuk curahan hati. Mereka kebanyakan menyampaikan perasaan-perasaan itu dalam bentuk tulisan online yang bisa diakses kapan dan di mana saja dengan memanfaatkan jasa internet. Ya, dunia memang sekeren itu.
Tidak terkecuali saya. Sebagian besar tulisan yang saya tuangkan di blog adalah curahan hati. Curahan hati yang paling bisa buat saya mewek sendiri, nyesek sendiri dan galau sendiri saat saya sedang dan sementara bercerita dengan jari yang lincah memencet tombol-tombol keyboard. Dan setelah saya bercerita pada sosok layar monitor itu, perasaan lega bin plong dan semua perasaan campur aduk senang pun merasuk di kalbu. Itulah saya. Saya dan tulisan yang tidak bisa dipisahkan.
Saat nalarmu menemukan jalan buntu untuk berbicara, saat logikamu berhenti berputar untuk mencari perumpamaan, dan saat mulutmu membisu untuk berucap, cobalah izinkan penamu untuk berkata-kata, dan lihatlah keajaiban yang akan dia berikan untukmu. ***
