“Mengapa Saya Menulis” #PaluMenulis #5
Jumat, 24 Oktober 2014 - Diposting oleh Unknown di 13.06
Liverpudlian, Traveller
SAYA lupa darimana ide menulis diary muncul, mungkin saya meniru dari salah satu kisah di buku atau tontonan di televisi, tapi menulis ternyata solusi yang saya cari, menenangkan hati.
Ketika ditanya mengapa saya menulis? Pertanyaan yang tidak puas untuk dijawab hanya dengan satu “karena” saja.
Diary
Cinta pertama saya adalah membaca. Karena kesepian dan introvert, membaca membuat saya hidup bahagia dalam imajinasi dan lamunan, tempat pelarian dari masa kecil yang rumit, keras dan sulit dimengerti. Dengan bertambahnya usia, pelan tapi pasti kepolosan masa kecil memudar, begitu pula imajinasi saya. Tak ada lagi pelarian meskipun saya masih terus membaca yang kebanyakan komik Jepang. Saya merana didera pahitnya dunia nyata. Tak ada tempat mengadu karena membuka diri sama saja dengan membeberkan aib.
Menulis juga membawa imajinasi saya ke level yang baru, bukan hanya sekadar lamunan lagi. Saya merasa spesial! Meski saya hanya biasa-biasa saja namun apa yang saya alami sangatlah luar biasa dan sayang sekali untuk dibiarkan lewat dan terlupakan begitu saja.
Pada awalnya tulisan saya berisi keseharian dan curahan segala gundah gulana khas anak remaja labil. Kemudian saya mulai skeptis dan kritis dengan situasi dan orang-orang di sekitar saya. Tulisan saya cenderung mempertanyakan doktrin agama yang pendekatannya lebih banyak mengatur dan menghakimi, tapi tidak melindungi, norma-norma sosial yang kaku dan sempit, pandangan umum masyarakat yang menilai kesuksesan dari uang dan jabatan, dan berbagai isu-isu lainnya. Diary saya adalah buah pikiran yang membentuk idealisme, yang meskipun ekstrim dan melawan arus, tulisan saya tetap teguh pada pendirian atau bolehlah dibilang keras kepala. Diary saya adalah perjalanan untuk mencari jati diri yang masih terus berlangsung sampai hari ini.
Cerpen
Cerita-cerita pendek yang saya tulis merupakan sepenggal kisah pribadi, bahkan ada juga mimpi yang dengan sengaja saya poles sedemikian rupa agar menarik dibaca teman-teman kost. Kala itu saya sudah kuliah di Salatiga. Berada jauh dari rumah, jauh dari sumber masalah dan kegalauan, saya berusaha membuka diri sedikit demi sedikit lewat tulisan.
Mereka bukan pecandu baca, namun dengan menggebu-gebu mereka membaca cerpen saya, mungkin karena ceritanya ringan dan jenaka dan juga karena mereka termasuk salah satu tokoh di dalamnya. Mendapat respon positif dari pembaca, saya terdorong untuk menulis cerita yang lebih panjang, lebih kompleks dan imajinatif, namun sayang sampai saat ini belum ada satu cerita pun yang selesai. Dengan menulis cerpen saya belajar untuk berbagi, berkomunikasi, memberi koneksi, menghibur, dihibur, dan dikritik.
Terjemahan
Berawal dari menerjemahkan satu film Hollywood yang populer dan digemari saat itu –lagi-lagi teman-teman kost, kemudian berlanjut menjadi alih bahasa yang disewa teman-teman kampus untuk menerjemahkan tugas bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Menemukan beberapa terjemahan yang asal-asalan, saya seolah merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan pesan yang sesungguhnya dari pencipta, penulis kepada penonton, pembaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Sejak saat itu saya melihat diri saya sebagai si Pembawa Pesan. Untuk saat ini menerjemahkan masih tergolong hobi, namun saya tidak menutup kemungkinan untuk berprofesi sebagai penerjemah profesional di masa depan. ***
