Memiliki tidak pernah akan selamanya. Justru karena kamu telah memiliki, bersiaplah untuk merelakan. Karena bukanlah perpisahan yang kan disesali, tapi pertemuan.
Tuhan, sudah menentukan segala
sesuatu dari scenario hidup kita, tanpa ada kekurangan sesuatu sedikitpun, asal
kau sadari itu. Hanya orang yang pintar bersyukur yang kebanyakan dapat
menyadarinya.
Bertemu dia, dia, mereka, ini, dan itu, itulah bagian dari peran kita dalam scenario Tuhan. Jalani dan nikmati serta syukuri agar kau paham makna peranmu.
Bertemu dia, dia, mereka, ini, dan itu, itulah bagian dari peran kita dalam scenario Tuhan. Jalani dan nikmati serta syukuri agar kau paham makna peranmu.
Bertemu kamu, seakan hati berkata
bahwa kaulah selanjutnya lawan mainku. Dan ditinggalkan olehmu, seakan hati
berkata bahwa dialog antara kita berakhir. Pastinya sedikit shock, karena tak
pernah tahu sebelumnya bahwa scenario kita berhenti disini, karena dialog kita
bukanlah sesuatu yang singkat, enough.Setelah mulai memahami kembali peran tunggalku sejauh ini, rupanya ini semakin menarik. Karena banyak sesuatu yang baru yang kutemukan, ku mainkan perannya, setidaknya ini menambah skill peranku dari banyak sisi. Dan aku bersyukur atas ending dari scenario bersamamu, tapi bukan aku membencimu karena bukan kau penyebabnya, dan juga bukan karena aku membenci pembuat scenario kita (Tuhan), karena Tuhan memberikanku lebih banyak kenikmatan lewat peran baru ini, hanya saja benci terhadap waktu karena dia tak mengatakan bahwa ending peran kita sebentar lagi, yah supaya aku dapat bersiap untuk tak merasakan sedikit shock. Tapi it’s ok lah, karena waktu tak punya mulut untuk berbicara, karena dia hanya punya layar lebar untuk memperlihatkan peranku selanjutnya dengan caranya. Terimakasih ‘waktu’ kau adalah tangan Tuhan dan sutradara hidup ini (Pembaca bisa tertawa tanpa senyum dibagian ini!).
Bersyukur akan hal apa? Hal terbesarnya karena aku dapat lebih mengenal dekat dengan pembuat skenarioku dan dapat lebih percaya kepada sutradaraku untuk menangani hidupku selanjutnya. Banyak pemeran lain menantikan memainkan peran bersamaku. Kalian adalah pemain peran kesayanganku. Yap, keluarga, sahabat, kawan maupun lawan. Terlalu banyak cinta yang kalian berikan dalam bentuk yang berbeda-beda, dalam bentuk tawa, canda, kasih sayang, maupun sakit, tapi sekali lagi ini bukan kehendak kalian karena aku tau kalau kalian juga sedang memainkan peran dari pembuat scenario yang sama denganku, terimakasih. Terlalu banyak nikmat yang ku dapatkan, kadang ku pikir scenario indah ini terlalu berlebihan, tapi tetap, terimakasih.
Sekarang, seperti peran biasanya, harus tau diri. Olehnya itu sebagai ungkapan syukur kepada pembuat scenario indah ini, aku akan terus bersyukur, mengasihi semua lawan peranku, dan tetap menjalankan kewajibanku untukmu. Dan untuk sutradarku, akan kuserahkan kepercayaanku soal kehidupanku besok dan seterusnya kepadamu untuk memperlihatkannya kepadaku.
Tentang Penulis : Dwi Urip Labha