“Mengapa Saya Menulis” #PaluMenulis #1

Jumat, 24 Oktober 2014 - Diposting oleh Unknown di 12.33
ARU RANGGA RAENALDY
Mahasiswa Arsitektur, Universitas Tadulako


MENULIS? pertanyaan yang menarik. Apa alasan saya sebenarnya hingga tertarik untuk menulis? Hmmm, setelah saya pikir-pikir tidak ada alasan khusus mengapa saya menulis. Dipikirkan sedalam apapun, saya hanya bisa sampai pada kesimpulan kalau saya menulis karena alasan yang sangat sederhana. Sesederhana keinginan saya menjalani hidup yang apa adanya.
Menulis bagi saya adalah sekedar mengumpulkan serpihan-serpihan ide agar meletup dan tidak kadaluarsa. Rasa-rasanya tidak rela membiarkan parade ide berlalu begitu saja, pun berakhir di tempat sampah. Yah, karena ide adalah mukjizat. Yang karenanya manusia bisa merasakan hidup yang lebih bergairah bahkan bersemangat sepanjang hari. Bukankah hidup yang penuh semangat adalah hal yang paling menyenangkan. Coba bayangkan, membuat adrenalin terpacu sepanjang hari. Dunia terlalu luas di hati saya untuk dibiarkan begitu saja.

Ada penulis, tentunya ada pembaca

Lalu untuk siapa saya menulis? Jawabannya singkat. Bukan untuk siapa-siapa. Untuk saya yang bebas. Menulis adalah kesenangan dan tidak boleh ada sesuatu pun yang membuat saya berada di bawah tekanan saat menulis. Kepala saya terlalu berharga untuk diperbudak oleh tanggapan dan keinginan di luar sana.
Saya tidak tahu banyak tentang dunia tulis-menulis. Semacam sihir, mendatangi begitu saja, suka begitu saja lalu menulis begitu saja. Mengakrabi tanpa punya pengetahuan khusus tentang itu. Mungkin ini alasan, mengapa tulisan saya tidak pernah benar-benar terkotak dengan jelas, atau lahir dengan jenis kelamin yang pasti Yah, ide itu alien, aneh bin ajaib. Persis sebutan sahabat-sahabat pada diri pribadi saya yang sangat menyimpang. (Dari tadi saya tulis apa yaaa…)

Tentang Pembaca

Baiklah, dalam ranah ego, menulis memang berefek ganda. Memuaskan penulis atau memuaskan pembacanya. Saya tidak sedang berbicara untuk memuaskan penulis dan pembaca di saat yang bersamaan. Tulisan bagi pembaca ada dua, yang menikmati alur ceritanya atau yang menikmati alur berpikir penulis. Dan kebetulan, untuk hal ini, saya termasuk jenis yang kedua. Jenis yang selalu kasmaran dengan alur berpikir penulis yang juga berarti termasuk penulis yang menikmati alur berpikirnya sendiri.
Pembaca tetap penikmat, itu harga patennya. Tugas penulis membahasakan imaji. Nah, di sini hal pentingnya. Saat penulis mempertimbangkan pembaca, itu berarti ia sudah berdamai dan teken kontrak untuk tidak akan bebas mengeksplorasi isi kepalanya. Saya? Tentu saja tidak rela. Harapan saya, dunia yang begitu luas di hati (jadi lebay) harus bebas lepas. Memuaskan pikiran dan menjadikan setiap senti meter kata dalam tulisan menjadi aset berharga alam bawah sadar, atau bahkan menjadikannya investasi berharga bagi dunia sastra. (Wow, saya bermimpi tentang ini)

Last but not a least…

Yah, saya menulis. Dengan keterbatasan ilmu dan pemahaman. Sayangnya, saya menggolongkan ini sebagai keterbatasan yang termaklumi. Karena kenapa? Karena saya penulis yang serba santai dan tidak menganut apapun dalam menulis, artinya mengalir begitu saja. ***